T O P

.

.
Tampilkan postingan dengan label Info Totabuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Totabuan. Tampilkan semua postingan

DPRD Kotamobagu Siapkan Ranperda Bangunan Gedung





KOTAMOBAGU—Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotamobagu pada 2015  ini akan segera membahas rancangan peraturan daerah (Ranperda) terkait bangunan dan gedung. Selain amanat undang-undang nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, dan PP nomor 36 tahun 2005 tentang peraturan pelaksanan UU nomor 28 tahun 2012, Perda ini juga mendukung isu strategis Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan umum (PU) yakni menuju pemukiman tanpa kumuh, 100 persen sanitasi dan 100 persen ketercukupan air minum tahun 2020 mendatang.
“Peraturan Daerah (Perda) Bangunan dan Gedung di seluruh kabupaten/kota se-indonesia khususnya Sulawesi Utara (Sulut) sudah harusnya sudah ada. Karena ini menyangkut masuknya proyek besar di Kotamobagu. Kenapa tidak masuk, karena tidak Perda yang mengatur soal itu,” kata personil DPRD Kotamobagu Anugerah Begie Gobel.
“Karena itu, kita dari DPRD, lebih khusus Banleg memasukkan Ranperda tentang bangunan dan gedung untuk dibahas tahun ini. Selain mengatur tentang proses pembangunan di daerah, Perda itu juga banyak membuka bantuan dari pemerintah pusat,”  tambah kader PAN ini.
Begie menambahkan, Perda bangunan gedung ini secara durasi waktu sudah wajib diadakan. Karena dalam UU telah diperintahkan untuk setiap kabupaten/kota sudah harus menerapkan perda Bangunan Gedung paling lambat 10 tahun setelah diundangkan.
“Artinya, tahun ini mestinya perda bangunan gedung sudah berlaku di Kotamobagu. Ini perintah undang-undang dan kita berinisiatif untuk membuat perdanya,” tambah dia.

Konkritnya, sejumlah proyek nasional yang masuk dalam program menuju pemukiman tanpa kumuh ialah Revitalisasi, bantuan pemukiman berupa paving block untuk kawasan perumahan, bantuan stimulus perumahan swadaya, ruang terbuka hijau, instalasi pengelolaan air bersih/limbah (IPAL). Akan tetap calon penerima gelontoran proyek itu harus memiliki perda RTRW dan perda bangunan gedung,” pungkasnya. (Has)

sumber : http://totabuan.co/2015/01/dprd-kotamobagu-siapkan-ranperda-bangunan-gedung/

Read More »
Minggu, Januari 25, 2015 | 0 komentar

Sebelum Meninggal, Chandra Masih Makan Apel Oleh-oleh Ayahnya

 
KON TRA, KOTAMOBAGU (12/11/2012)—Suasana sedih tampak terlihat di kediaman pasangan Jonly Suoth dan Like Tuyu di Desa Poyowa Kecil, Senin (12/11/2012). Anak ketiga mereka, Chandra Suoth (16) harus meregang nyawa setelah akibat tawuran yang terjadi antara desa Poyowa Kecil dan kelurahan Mongondow, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu (Sulut), Minggu (11/11/2012).
Sang Ayah ketika diwawancara kontraonline di rumah duka, sempat mengenang kebersamaan antara dirinya dengan anak ketiganya tersebut.
“Dia masih makan apel oleh-oleh saya sepulang dari Manado. Dia juga sempat makan bersama malam tadi,” kata Jhonly dengan berlinang air mata.
Dituturkan Johnly, sekitar pukul 23.30 wita kemarin malam itu, anak bungsunya membangunkan Jhonly dan mengabarkan bahwa Chandra berada di lokasi keributan. Johnly pun langsung berangkat mencari Chandra, yang langsung didapati berada di lokasi keributan.
“Saya ajak dia pulang. Dia juga mengikuti saya dari belakang. Namun saat saya berbelok menuju rumah, di belakang ada beberapa orang yang membopong korban dan ternyata itu Chandra. Saya langsung membawa sendiri ke rumah,” tutur Johnly.
Jhonly menambahkan, dia tidak habis pikir dengan musibah yang menimpa anaknya, karena setahu dia, posisi sang anak ketika tiba-tiba tersungkur itu, sudah berada sekitar 100 meter dari perbatasan antara Poyowa Kecil dan Mongondow.
Namun malang, belum lagi sempat dibawa ke rumah sakit Datoe Binangkang, Chandra yang bertubuh mungil tersebut telah menghembuskan napas terakhir di rumahnya.
“Saya masih melihat tarikan napas terakhirnya,” Jhonly sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sesekali menahan sendu atas kehilangan putra tercinta yang bercita-cita ingin jadi Polisi selulus sekolahnya.
(ndr/mji)
URL Pendek: http://kontraonline.com/?p=10068
sumber : http://kontraonline.com/10068/sebelum-meninggal-chandra-masih-makan-apel-oleh-oleh-ayahnya/

Read More »
Rabu, November 14, 2012 | 0 komentar

Relawan Kotamobagu Galang Dana untuk PBMR

 



KONTRA, KOTAMOBAGU (29/10/2012)—Pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (BMR), nampaknya terus menuai dukungan dari berbagai kalangan masyarakat khususnya yang berada di Kotamobagu. Senin (29/10) tadi, sedikitnya tujuh orang yang mengaku simpatisan untuk menggalang dana demi terwujudnya PBMR ini, melakukan aksi menggalang dana di simpang empat Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK).
Dikatakan Meitry Ferreto, seorang relawan ketika berbincang dengan kontraonline.com, aksi yang dilakukan bersama beberapa temanya itu, untuk mengundang daerah lain agar tergerak nurani mereka dan mendukung pembentukan PBMR ini.
“Untuk saat ini yang tergabung memang baru beberapa orang saja. Namun kami yakin ini bisa mendorong semangat masyarakat Bolmong Raya untuk meraih cita-cita jadi Provinsi BMR,” kata Meitry, di sela-sela aksi pengumpulan dana.
Dikatakannya, akan ada keuntungan jika Provinsi BMR bisa terwujud, contohnya dalam pengelolaan sumber daya alam. Wilayah Bolmong yang kaya potensi akan bisa mendapatkan manfaat lebih banyak dengan lapangan pekerjaan yang akan bertambah.
“Jika ini terwujud pastinya yang akan menikmati itu kita semua, karena akan terbuka lebih banyak lagi lapangan kerja,” ujarnya.
Meitri menambahkan, pembentukan Provinsi BMR harus secepatnya didorong mengingat adanya wacana moratorium pemekaran wilayah.
“Jangan sampai moratorium tersebut terjadi dan Provinsi BMR tidak terwujud,” tandasnya, seraya menambahkan, aksi yang dilakukannya sejak pagi tadi hingga menjelang sore hari telah terkumpul sebanyak Rp379 ribu, dan itu akan dilakukannya hingga tiga hari mendatang.
(ndr/mji)
URL Pendek: http://kontraonline.com/?p=9804

Read More »
Rabu, November 14, 2012 | 0 komentar

Dua Jenderal Turun Koordinasi Pengamanan Dumoga

 

KONTRA, KOTAMOBAGU (03/11/12)— Dua (2) Jenderal bintang satu berbeda institusi, Brigjen Dicky Atotoy (Kapolda Sulawesi utara) dan Brigjen Sutangkad (Kepala Badan Intelijen Daerah) Sulut, akhirnya turun gunung bersama berusaha mengatasi pertikaian antara dua desa di kecamatan Dumoga Timur Kabupaten Bolaang Mongondow, desa Tambun dan Imandi. Seperti diketahui, satu korban tewas teridetifikasi warga desa Tambun, tewas tertembak diduga peluru nyasar saat anggota Kepolisian berusaha mengamankan tawuran kedua warga desa Jumat malam kemarin.
Sabtu (03/11) mala mini, digelar rapat koordinasi bersama pemerintah daerah Bolmong serta masyarakat setempat, yang bertempat di kantor kecamatan Dumoga Timur. Pantauan kontraonline.com, rapat yang dihadiri Kapolres Bolmong AKBP Enggar Brotoseno, Dandim 1303 Bolmong, Dir intel Polda, Wakil Bupati Bolmong Yani Tuuk, serta para sangadi dari seluruh Dumoga bersatu, dilakukan guna mencari solusi terbaik tentang pengamanan di wilayah yang dikenal lumbung beras Sulut tersebut.
“Buat masyarakat Dumoga khususnya Dumoga Timur ini, jangan gampang terprovokasi dengan masalah sepele, bangunlah koordinasi kekeluargaan yang baik antar sesama, kita semua tidak menginginkan daerah kita ini akan tertinggal pengetahuan seperti daerah lain,” ujar Atotoy, saat membawakan pidatonya di hadapan para aparatur desa, serta masyarakat kelurahan Imandi dan Tambun.
Dia menjelaskan, pendekatan secara keagamaan pun harus dilakukan, olehnya dimintakan kepada seluruh tokoh-tokoh agama yang ada, agar membantu pengamanan di kedua desa ini. Salah satu tokoh masyarakat di Dumoga bersatu Piet Kemur, yang juga mantan anggota DPRD Bolmong, menyampaikan aspirasi bersama dengan para Sangadi Dumoga bersatu, bahwa pemicu utama dalam pertikaian yang sering terjadi di daerah ini, yakni ada 3 hal, yang pertama Miras, Knalpot Racing, dan Senjata tajam. Menurutnya, 3 hal tersebutlah yang tidak pernah di antisipasi oleh pihak kepolisian.
“Tiga hal itu,yang pernah kami sampaikan di DPRD belum lama ini, agar pihak kepolisian segera lakukan operasi terhadap 3 hal tersebut. Namun, sayangnya sampai dengan hari ini tidak pernah dilakukan.” tandas Piet, seraya mengatakan itulah yang sering membuat pertikaian terjadi di masyarakat.
(Ndr/mji)
URL Pendek: http://kontraonline.com/?p=9929

Read More »
Rabu, November 14, 2012 | 0 komentar

Gubernur Sulut Siap Perjuangkan Provinsi Bolaang Mongondow Raya


 Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Sinyo Harry Sarundajang, menyambut baik rencana pemekaran Provinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR). SHS, sapaan popular Gubernur yang memimpin bumi nyiur melambai menuju dua periode ini, mengaku sangat mendukung dan akan bersama-sama masyarakat BMR untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
“Saat kami bertemu beliau (SHS-red) senin malam lalu, Gubernur menyatakan keseriusannya untuk mendukung pemekaran provinsi BMR, bahkan beliau berjanji untuk berada di garis terdepan bersama masyarakat Totabuan untuk memperjuangkan cita-cita ini,” kata Abdul Kadir Mangkat, bendahara panitia PBMR, juga dikenal sebagai ketua DPRD Bolaang Mongondow.
Pada pertemuan yang dihadiri seluruh jajaran panitia pemekaran bersama Gubernur dan jajaran eksekutif Pemerintah provinsi Sulut, SHS langsung memerintahkan jajarannya seperti Sekretaris Provinsi (Sekprov) dan Asisten I Setprov, untuk membantu sepenuhnya proses administrasi menuju pemekaran provinsi BMR.
“Saat ini panitia tinggal melakukan pembenahan administrasi. Gubernur juga sudah perintahkan ke Sekprov dan Asisten 1 untuk membantu proses perjuangan panitia dan masyarakat Bolmong raya,” tutur Mangkad dengan nada girang.
SHS juga menurut ketua DPRD Bolmong ini, mendorong panitia beserta segenap elemen pemerintah daerah beserta masyarakat, agar PBMR bisa terwujud paling lambat tahun 2013 mendatang. Mengingat, pemilu tahun 2014 mendatang, 5 Kabupaten/Kota di BMR ini akan menjadi daerah pemilihan (dapil) sendiri.
“Tidak lupa juga, pak Gubernur menjanjikan kepada ita semua masyarakat Bolmong raya, untuk menganggarkan dana pemekaran provinsi di APBD Provinsi tahun 2013,” tukas Mangkad.
(ndr/mji)
URL Pendek: http://kontraonline.com/?p=10009

Read More »
Rabu, November 14, 2012 | 0 komentar

Dumoga Berdarah (imandi vs Tambun)


 
imandi vs tambun = Dendam membara, untuk sementara skor (korban tewas ) dari 2004 - mei 2012 itu 5-2. tambun (5) - imandi (2). diluar yang luka2.
imandi vs tambun 8thn silam di menangkan oleh imandi dgn skor 1 orang iamndi tewas.dan tambun 5 orang tewas.
dan terjadi kembali di 2012 dgn kmenangan tambun 1 orang imandi tewa.
dan scor selurunya 2orang imandi tewas.dan 5 orang tambun tewas...di luar luka parah....
berikan tanggapan anda.
nah ini adalah video Imandi vs Tambun (dumoga - Bolmong)

warga imandi ketika melakukan penyerangan


 cuma baku gara
berikan tanggapan anda mengenai kejadian ini

Read More »
Minggu, November 04, 2012 | 0 komentar

2 nama mulai menghangat untuk pengisian kursi WABUP Bolsel

yusuf ruchban
Samsyul Badu
Pengisian kursi wakil bupati yang masih kosong kini mulai hangat dibicarakan warga yang berada di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Dimana dua nama mulai mengkristal yakni Yusuf Rucbhan yang diusulkan dari Partai Buruh dan Samsul Bahri Badu yang diusulkan dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang keduanya merupakan asli berasal dari Kecamatan Posigadan.
Seperti janji Bupati Hi Herson Mayulu sebelumnya , dimana secara terang-terangan untuk menggantikan almarhum wakil bupati Drs Samir Badu, dirinya tetap melirik putra Posigadan, demi perimbangan di daerah. Sehingga, tidak menutup kemungkinan satu darti  dua putra daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bone Bolango itu, bakal menjadi orang nomor dua di Bolsel.
Seperti diketahui, nama Yusuf Rucbhan dikabarkan sudah direkomendasi oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) bahkan sudah mengantongi SK DPP. Begitu halnya dengan nama Samsul Badu. Kepala Inspektorat Bolsel itu telah direkomendasi oleh PAN bahkan sudah diplenokan oleh DPW.
Ketua DPD PANH Bolsel Latief Moha mengatakan meski ada tiga nama yang diusulkan dari PAN yang pasti hanya satu nama yang direkomendasikan oleh user (Bupati) tidak lain putra yang berasal dari Posigadan.
“ PAN merekomendasi tiga nama. Dan nama tersebut sudah diplenokan hingga ke tingkat DPW dan akan segera dimasukan ke bupati,”kata Moha.
Selain Samsul Badu, nama Yusuf Ruchban jelas merupakan cvalon tunggal dicalonkan oleh Partai Buruh. Ini terbukti karena Rucbhan sendiri telah mengantongi SK dari DPP.

Read More »
Sabtu, Oktober 20, 2012 | 0 komentar

Pengisian Kursi Wakil Bupati Bolsel, Iskandar Kamaru No Coment !


BOLSEL—Anggota DPRD Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel- Sulut) Iskandar Kamaru, masih terus no comentt soal kabar dirinya akan digaet menduduki kursi Wakil Bupati Bolsel, setelah kosong ditinggal almarhum Bpk Samir Badu. Dikonfirmasi Nevlens.com beberapa hari lalu, Iskandar Kamaru tidak mau berkomentar soal isu ketertarikan Bupati Bolsel Herson Mayulu, untuk menggaet dirinya menjadi wakil bupati.
“Oh saya tidak mau komentar soal itu, lagipula ini baru aspirasi warga saja dan saya anggap itu bukan pernyataan yang perlu saya tanggapi,” kata Iskandar.
Pun soal tanggapan partai Golkar sebagai parpol yang mengusungnya ke DPRD Bolsel, Iskandar mengatakan tidak tahu menahu soal masalah kursi wabup dan tanggapan parpol. Dia hanya mengatakan, Partai Golkar bukanlah pengusung pasangan calon Bupati pemenang pemilukada Bolsel, sehingga tidak ada hak dirinya atau sebagai perwakilan partai terkait masalah kursi kosong wakil bupati.
“Kami bukan partai pengusung jadi tidak punya hak untuk bicarakan masalah kursi Bupati maupun Wakil Bupati,” tegas Iskandar.
Tambah dia, sebagai negarawan yang baik, dia hanya ingin melanjutkan tugas-tugasnya di Dewan Bolsel tanpa harus terusik dengan isu kursi wakil bupati yang secara konstitusi memang bukan hak parpol mereka.

Read More »
Sabtu, Oktober 20, 2012 | 0 komentar

bolaang mongondow dalam sejarah

Photo by nev setiawan
Penduduk asli Bolaang Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata serta
Tumotoibokol dan Tumotoibokat, awalnya mereka tinggal di gunung Komasaan (Bintauna). Kemudian
menyebar ke timur di tudu in Lombagin, Buntalo, Pondoli', Ginolantungan sampai ke pedalaman tudu
in Passi, tudu in Lolayan, tudu in Sia', tudu in Bumbungon, Mahag, Siniow dan lain-lain. Peristiwa
perpindahan ini terjadi sekitar abad 8 dan 9.
Nama Bolaang berasal dari kata "bolango" atau "balangon" yang berarti laut. Bolaang atau
golaang dapat pula berarti menjadi terang atau terbuka dan tidak gelap, sedangkan Mongondow dari
kata ‘momondow’ yang berarti berseru tanda kemenangan.
Desa Bolaang terletak di tepi pantai utara yang pada abad 17 sampai akhir abad 19 menjadi
tempat kedudukan istana raja, sedangkan desa Mongondow terletak sekitar 2 km selatan Kotamobagu.
Daerah pedalaman sering disebut dengan ‘rata Mongondow’. Dengan bersatunya seluruh
kelompok masyarakat yang tersebar, baik yang yang berdiam di pesisir pantai maupun yang berada di
pedalaman Mongondow di bawah pemerintahan Raja Tadohe, maka daerah ini dinamakan Bolaang
Mongondow.
Setiap kelompok keluarga dari satu keturunan dipimpin oleh seorang Bogani (laki-laki atau
perempuan) yang dipilih dari anggota kelompok dengan persyaratan : memiliki kemampuan fisik
(kuat), berani, bijaksana, cerdas, serta mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan kelompok
dan keselamatan dari gangguan musuh.
Mokodoludut adalah punu’ Molantud yang diangkat berdasarkan kesepakatan seluruh bogani.
Mokodoludut tercatat sebagai raja (datu yang pertama). Sejak Tompunu’on pertama sampai ketujuh,
keadaan masyarakat semakin maju dengan adanya pengaruh luar (bangsa asing). Perubahan total
mulai terlihat sejak Tadohe menjadi Tompunu’on, akibat pengaruh pedagang Belanda dirubah istilah
Tompunu’on menjadi Datu (Raja).
Tadohe dikenal seorang Datu yang cakap, sistem bercocok tanam diatur dengan mulai
dikenalnya padi, jagung dan kelapa yang dibawa bangsa Spanyol pada masa pemerintahan Mokoagow
(ayah Tadohe). Tadohe melakukan penggolongan dalam masyarakat, yaitu pemerintahan
(Kinalang) dan rakyat (Paloko’). Paloko’ harus patuh dan menunjang tugas Kinalang, sedangkan
Kinalang mengangkat tingkat penghidupan Paloko’ melalui pembangunan disegala bidang, sedangkan
kepala desa dipilih oleh rakyat.
Tadohe berhasil mempersatukan seluruh rakyat yang hidup berkelompok dengan boganinya
masing-masing, dan dibentuk sistem pemerintahan baru. Seluruh kelompok keluarga dari Bolaang,
Mongondow (Passi dan Lolayan), Kotabunan, Dumoga, disatukan menjadi Bolaang Mongondow. Di
masa ini mulai dikenal mata uang real, doit, sebagai alat perdagangan.
Pada zaman pemerintahan raja Corenelius Manoppo, raja ke-16 (1832), agama Islam masuk
daerah Bolaang Mongondow melalui Gorontalo yang dibawa oleh Syarif Aloewi yang kawin dengan
putri raja tahun 1866. Karena keluarga raja memeluk agama Islam, maka agama itu dianggap sebagai
agama raja, sehingga sebagian besar penduduk memeluk agama Islam dan turut mempengaruhi
perkembangan kebudayaan dalam beberapa segi kehidupan masyarakat. Sekitar tahun 1867 seluruh
penduduk Bolaang Mongondow sudah menjadi satu dalam bahasa, adat dan kebiasaan yang sama
(menurut N.P Wilken dan J.A.Schwarz).
Pada tanggal 1 Januari 1901, Belanda dibawa pimpinan Controleur Anton Cornelius Veenhuizen
bersama pasukannya secara paksa bahkan kekerasan berusaha masuk Bolaang Mongondow
melalui Minahasa, setelah usaha mereka melalui laut tidak berhasil dan ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Riedel Manuel Manoppo dengan kedudukan istana raja di desa Bolaang. Raja Riedel
Manuel Manoppo tidak mau menerima campur tangan pemerintahan oleh Belanda, maka Belanda
melantik Datu Cornelis Manoppo menjadi raja dan mendirikan komalig (istana raja) di Kotobangon
pada tahun 1901. Pada tahun 1904, dilakukan perhitungan penduduk Bolaang Mongondow dan berjumlah
41.417 jiwa.
Pada tahun 1906, melalui kerja sama dan kesepakatan dengan raja Bolaang Mongondow, W.
Dunnebier mengusahakan pembukaan Sekolah Rakyat dengan tiga kelas yang dikelola oleh zending
di beberapa desa; yakni : desa Nanasi, Nonapan, Mariri Lama, Kotobangon, Moyag, Pontodon, Pasi,
Popo Mongondow, Otam, Motoboi Besar, Kopandakan, Poyowa Kecil dan Pobundayan dengan total
murid sebanyak 1.605 orang, sedangkan pengajarnya didatangkan dari Minahasa.
Pada tahun 1937 dibuka di Kotamobagu sebuah sekolah Gubernemen, yaitu Vervolg School
(sekolah sambungan) kelas 4 dan 5 yang menampung lepasan sekolah rakyat 3 tahun.
Ibukota Bolaang Mongondow sebelumnya terletak disalah satu tempat di kaki gunung Sia’ dekat
Popo Mongondow dengan nama Kotabaru. Karena tempat itu kurang strategis sebagai tempat
kedudukan controleur, maka diusahakan pemindahan ke Kotamobagu dan peresmiannya diadakan
pada bulan April 1911 oleh Controleur F. Junius yang bertugas tahun 1910-1915.
Pada tahun 1911 didirikan sebuah rumah sakit di ibukota yang baru Kotamobagu. Rakyat mulai
mengenal pengobatan modern, namun ada juga yang masih mempertahankan dan melestarikan pengobatan
tradisional melalui tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat dan sampai sekarang dibudayakan
secara konvensional.
Sejak semula, masyarakat Bolaang Mongondow mengenal tiga macam cara kehidupan bergotong
royong yang masih terpelihara dan dilestarikan terus sampai sekarang ini, yaitu : Pogogutat
(potolu adi’), Tonggolipu’, Posad (mokidulu). Tujuan kehidupan bergotong royong ini sama, namun
cara pelaksanaaannya agak berbeda.
Penduduk pedalaman yang memerlukan garam atau hasil hutan, akan meninggalkan desanya
masuk hutan mencari damar atau ke pesisir pantai memasak garam (modapug) dan mencari ikan.
Dalam mencari rezeki itu, sering mereka tinggal agak lama di pesisir, maka disamping masak garam
mereka juga membuka kebun. Tanah yang mereka tempati itulah yang disebut Totabuan yang dapat
diartikan sebagai tempat mencari nafkah.
Bila ada tamu yang bertandang pada masa kerajaan, biasanya disuguhi sirih pinang, tamu pria
atau wanita terutama orang tua. Sirih pinang diletakkan dalam kabela' (dari kebiasaan ini diciptakan
tari kabela sebagai tari penjemput tamu). Tamu terhormat terutama pejabat di jemput dengan
upacara adat. Tarian Kabela sampai saat ini tetap lestari di bumi Totabuan.
Tarian yang ada di Bolaang Mongondow cukup beragam diantaranya tarian tradisional yang
terdiri dari Tari Tayo, Tari Joke', Tari Mosau, Tari Rongko atau Tari Ragai, Tari Tuitan; juga tarian
kreasi baru seperti Tari Kabela, Tari Kalibombang, Tari Pomamaan, Tari Monugal, Tari Mokoyut, Tari
Kikoyog dan Tari Mokosambe.
Upacara monibi terakhir diadakan pada tahun 1939 di desa Kotobangon (tempat kedudukan
istana raja) dan di desa Matali (tempat pemakaman raja dan keturunannya).
Transmigran ke Bolaang Mongondow pertama kali datang pada tahun 1963 dengan jumlah
1.549 jiwa (349 KK) & ditempatkan di Desa Werdhi Agung. Para transmigran berikutnya ditempatkan
di desa Kembang Mertha (1964), Mopuya (1972/1975), Mopugad (1973/1975), Tumokang
(1971/1972), Sangkub (1981/1982), Onggunai (1983/1984), Torosik (1983/1984) dan Pusian/Serasi
(1992/1993). lengkap
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Bolaang Mongondow menjadi bagian wilayah Propinsi
Sulawesi yang berpusat di Makassar, kemudian tahun 1953 berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
11 Tahun 1953 Sulawesi Utara dijadikan sebagai daerah otonom tingkat I. Bolaang Mongondow
dipisahkan menjadi daerah otonom tingkat II mulai tanggal 23 Maret 1954, sejak saat itu Bolaang
mongondow resmi menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri
berdasarkan PP No.24 Tahun 1954. Atas dasar itulah, mengapa setiap tanggal 23 Maret seluruh
rakyat Bolaang Mongondow selalu merayakannya sebagai HUT Kabupaten Bolaang Mongondow.
Seiring dengan Nuansa Reformasi dan Otonomi Daerah, telah dilakukan pemekaran wilayah
dengan terbentuknya Kabupaten Bolaang Mongondow Utara melalui Undang-Undang RI No. 10 Tahun
2007 dan Kota Kotamobagu melalui Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2007 sebagai hasil pemekaran
dari Kabupaten Bolaang Mongondow.
Tujuan utama pembentukan Kab. Bolmong Utara dan Kota Kotamobagu adalah untuk
memajukan daerah, membangun kesejahteraan rakyat, memudahkan pelayanan, dan memobilisasi
pembangunan bagi terciptanya kesejahteraan serta kemakmuran rakyat totabuan.


Read More »
Jumat, Oktober 19, 2012 | 0 komentar

JEMBATAN MILANGODAA— Warga Berharap Pembangunannya dipercepat

Bolsel— Sejumlah warga Gorontalo dan Sulawesi Utara (Sulut), berharap pembangunan jembatan Milangodaa, yang menghubungkan dua provinsi itu agar dipercepat, sehingga akses transportasi dan ekonomi berjalan baik.
“Sudah cukup lama jembatan itu rusak akibat bencana alam, namun belum ada informasi selesainya pembangunan,” kata Awit Mokoagow , salah satu warga Bolmong Selatan, Selasa.
Jembatan sepanjang 250 meter itu, merupakan penghubungan dua provinsi di bagian selatan, dan merupakan akses trransportasi alternatif yang banyak dimanfaatkan warga.
Menurut warga, jalur utama yang menghubungkan Gorontalo dan Sulut ada di bagian pantai utara atau jalur trans Sulawesi, namun jaraknya sangat jauh.
Sementara untuk jalur selatan yang ada di perbatasan Kabupaten Bolmong Selatan (Sulut) dan Kabupaten Bone Bolango (Gorontalo), jarak tempuhnya masih cukup dekat.
“Kalau kita dari Gorontalo hendak ke Kabupaten Bolmong dengan melewati Jembatan Milangodaa di jalur selatan, jarak tempuhnya hanya sekitar empat hingga lima jam. Kalau mengikuti jalur utara lebih jauh menjadi enam hingga tujuh jam lamanya,” kata Adri Mooduto, salah satu warga Gorontalo.
Pria yang berprofesi sopir truk ini, setiap hari dirinya harus mengintari jalur selatan ke pantai utara atau trans Sulawesi, karena memang tidak ada jalur alternatif lainnya.
Sebelumnya, pembangunan jembatan Milangodaa yang rusak akibat bencana tahun 2008 lalu, sempat dianggarkan sekitar Rp42 miliar.
Anggaran itu dilakukan bersama antara pemerintah Provinsi Sulut dan National Road Improvement Project (EINRIP), dan sudah dilakukan peletakan batu pertama tahun 2008 lalu.

inilah photo jembatan milangodaa yang hanyut di hantam banjir.













Read More »
Senin, Oktober 15, 2012 | 0 komentar